TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI WEBSITE PUSKESMAS LEKSONO I. JADIKAN PUSKESMAS LEKSONO I SEBAGAI TEMPAT FAVORIT FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA ANDA. BAWALAH KARTU BEROBAT ANDA ATAU KARTU TANDA PENGENAL (KTP/KK) DAN KARTU JAMINAN KESEHATAN ANDA SAAT BERKUNJUNG KE PUSKESMAS
Tampilkan postingan dengan label YANIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YANIS. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Maret 2016

Menyoroti Kontroversi Seputar Imunisasi

 
Berbagi Ilmu dari Artikel Ikatan Dokter Indonesia,
Yuk Kita simak dan Pahami bersama.....
       Merebaknya kembali Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Sumatera Barat dan Aceh pada penghujung 2014 lalu hingga menimbulkan kematian dua orang anak yang tak mendapat imunisasi sama sekali dan membuat puluhan pasien dirawat dalam ruang isolasi Difteri, membuka mata kita bahwa ada masalah dengan persepsi masyarakat terhadap imunisasi saat ini. Hal tersebut tak lepas dari gencarnya isu yang dilontarkan kelompok antivaksin di Indonesia yang menebar pendapatnya melalui berbagai tulisan baik di buku-buku, tabloid, media sosial, maupun dari seminar dan ceramah keagamaan di masjid-masjid dan majelis taklim. Pendekatan yang dilakukan kelompok ini adalah pendekatan ideologis dengan basis agama Islam. Isu yang diusung biasanya menyangkut kehalalan dan keamanan vaksin dan isu konspirasi Yahudi di balik program vaksinasi.
      Pada tahun 2012 Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat sudah mengeluhkan adanya penurunan tajam cakupan imunisasi dari 93% ke 35% setelah masyarakat mengikuti ceramah tokoh antivaksin di berbagai masjid dan majelis taklim.  Hal tersebut disampaikan pada peringatan ulang tahun Ikatan Dokter Anak Indonesia pada saat itu. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk menyadarkan kembali masyarakat akan pentingnya imunisasi. Namun dua tahun kemudian KLB Difteri tetap terjadi di propinsi yang masyarakatnya agamis ini. Mengingat pendekatan kaum antivaksin yang amat 'khas' menyangkut ideologi vaksinasi maka mengatasinya pun tak cukup sekedar membantah argumen mereka dengan alasan ilmiah rasional semata, namun perlu juga dipahami alasan ideologis mengapa vaksinasi amat dibutuhkan oleh umat manusia.

Pentingnya mencegah penyakit dalam Islam

       Kelompok antivaksin seringkali mengabaikan aspek pencegahan terhadap penyakit dan hanya mengutamakan aspek pengobatan penyakit (kuratif) saja. Mereka menganggap bahwa tuntunan Islam dalam masalah kesehatan hanyalah perintah untuk berobat setelah jatuh sakit. Pendapat tersebut tidak benar karena Islam amat menekankan aspek pencegahan terhadap berbagai hal yang menimbulkan potensi kerusakan di masyarakat, baik itu kerusakan fisik maupun non-fisik. Misalnya larangan mendekati zina (Al Qur'an surat Al Isra 17:32). Perhatikanlah bahwa yang dilarang adalah mendekati zina, redaksinya bukan saja larangan berzina. Ini adalah contoh bagaimana Islam berusaha mencegah sedini mungkin potensi kerusakan sosial dan kesehatan di masyarakat akibat zina dengan melarang manusia untuk mendekati zina.
       Aspek pencegahan pun berlaku dalam masalah penyakit secara umum. Hadits Nabi SAW tentang: "Jagalah lima hal sebelum datang lima hal: hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, dan waktu lapang sebelum sempit". Serta hadits lain yang menyebutkan bahwa "Mukmin yang kuat lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah". Kedua hadits tersebut mengisyaratkan seorang muslim harus menjaga dan melakukan aspek promotif preventif dalam bidang kesehatan. Dalam kaidah ushul fiqih dikenal istilah sadudz-dzari'ah wajibun fil Islam. Artinya mencegah kemungkinan terjadinya kemudharatan di kemudian hari hukumnya wajib dalam Islam. Penyakit termasuk salah satu kemudharatan yang bisa menimpa individu maupun komunitas masyarakat. Bagaimana cara spesifik untuk mencegah penyakit tentu diserahkan kepada ahlinya, dalam hal ini para pakar kesehatan.

Larangan untuk menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan

        Seorang muslim dilarang menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Dalam surat Al Baqarah 2:195: "Dan janganlah menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan" serta surat An Nisa 4:29: "Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah amat sayang kepadamu". Dalam mengomentari ayat ini Syaikh DR Yusuf Al Qaradhawy seorang ulama kontemporer yang tinggal di Qatar mengatakan bahwa upaya pencegahan penyakit seperti vaksinasi yang sudah direkomendasikan oleh para ahli kesehatan amat penting diperhatikan oleh setiap muslim. Jika sudah ada cara spesifik untuk mencegah penyakit ganas dengan cara vaksinasi lalu seorang muslim menolaknya dan berakibat tertular penyakit, maka bisa dianggap sebagai menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.     

Vaksinasi sebagai salah satu ilmu kauniyah terbesar abad ini

      Diawali dengan tradisi masyarakat muslim Turki pada awal abad-18 yang memiliki kebiasaan menggoreskan nanah dari sapi yang menderita penyakit cacar sapi (cowpox) kepada manusia untuk melindungi manusia dari penyakit cacar (smallpox, variola) kemudian tradisi ini dibawa ke Inggris dan diteliti serta dipublikasikan oleh Edward Jenner tahun 1798. Sejak saat itu konsep vaksinasi terus berkembang demikian pesat. Beragam jenis vaksin telah ditemukan selama dua abad. Dan masih akan banyak lagi jenis vaksin yang ditemukan.
     Penelitian untuk membuat vaksin merupakan penelitian yang panjang, sangat memperhatikan aspek keamanan dan keakuratan data. Satu jenis vaksin bisa memerlukan belasan tahun untuk membuatnya. Diawali dengan uji laboratorium, kemudian uji pada hewan coba, relawan, orang dewasa, baru kemudian diterapkan pada bayi dan anak setelah terbukti produk vaksin tersebut aman dipakai. Bila terbukti sebuah vaksin menimbulkan efek simpang atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang berat dan fatal maka vaksin akan segera ditarik dari peredaran untuk diteliti ulang.
      Berbagai prestasi vaksinasi pun telah dapat kita lihat dalam catatan sejarah kemanusiaan. Di antara prestasi terbesar vaksinasi adalah lenyapnya penyakit cacar pada tahun 1979. Inilah salah satu bukti manfaat ilmu kauniyah yang dipelajari manusia (apa pun agama dan rasnya). Hasil dari eksplorasi alam semesta di antaranya ilmu tentang vaksin (vaksinologi) telah menghasilkan manfaat yang luar biasa dalam bidang pencegahan penyakit pada manusia (dan juga hewan). Adalah amat keliru bila hasil penelitian selama dua abad itu kemudian ditolak dengan alasan amat sederhana: itu produk buatan manusia. Pendikotomian buatan Allah dan buatan manusia seperti pemahaman sebagian kelompok muslim yang antivaksinasi pada hakikatnya adalah pemahaman yang amat sekuler. Pemahaman yang jauh menyimpang dari intisari ajaran Islam yang sebenarnya. Bila kita memahami dengan baik posisi ilmu kauniyah maupun ilmu qauliyah adalah bersumber dari Allah SWT yang Maha Berilmu, maka tidak perlu lagi terjadi hal seperti di atas.

Pendapat para ulama mengenai vaksinasi

       Kita perlu tahu bahwa vaksinasi bukan hanya dilaksanakan di Indonesia namun juga dilaksanakan di lebih dari 190 negara di seluruh dunia, termasuk negara-negara muslim. Sampai saat ini tidak pernah terdengar seorang pun dari ulama-ulama di negara-negara muslim itu yang melarang diberikannya vaksinasi kepada bayi dan anak di negaranya. Sebagai contoh Syaikh Abdullah Bin Bazz seorang mufti dari Saudi Arabia membolehkan vaksinasi. DR Yusuf Al Qaradhawy ulama alumni Al Azhar dan kini tingal di Qatar pun membolehkan imunisasi. Bahkan beliau banyak menyerahkan masalah ini kepada para dokter yang menguasai ilmu vaksinologi secara mendalam dan kemudian beliau berikan fatwa terhadap apa yang diungkapkan para dokter. Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia pun merekomendasikan pemberian imunisasi. Kalau para ulama di tingkat internasional saja membolehkan vaksinasi lalu mengapa ada orang yang bukan ulama malah mempermasalahkan bolehnya vaksinasi dalam Islam.
          Adapun pendapat sebagian kelompok Islam yang mengatakan vaksinasi dilarang dalam Islam karena menggunakan kuman yang disuntikkan ke dalam tubuh sehingga berpotensi membahayakan tubuh, adalah pendapat yang tidak berlandaskan ilmu dan hanya berdasarkan zhan atau prasangka belaka. Mereka berpendapat begitu tanpa bekal ilmu pengetahuan yang memadai mengenai vaksin dan vaksinasi. Padahal Islam melarang umatnya untuk berprasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa. Saat ini ada sebagian orang yang bukan ahlinya namun seringkali berkomentar mengenai sesuatu yang tidak difahaminya secara mendalam. Hanya berdasarkan bacaan dari internet, bersumber dari tokoh-tokoh fiktif yang tidak pernah ada atau berdasarkan teori konspirasi. Hal ini amat disayangkan karena bertentangan dengan anjuran dan tradisi Islam yang sangat menekankan aspek kejujuran dan obyektifitas ilmiah. Salah satu contoh tradisi ilmiah dalam Islam yang tidak ada bandingannya adalah pada proses penyeleksian ketat terhadap hadits-hadits nabi. Mungkin orang-orang yang hobi menyadur rumor, berita fiktif, hoax, gosip, khususnya tentang kampanye negatif terhadap vaksinasi perlu meniru tradisi Islam dalam menyeleksi hadits shahih.

Masalah enzim babi dalam proses pembuatan vaksin

     Salah satu persoalan yang sering dipermasalahkan mengenai kehalalan vaksin adalah digunakannya enzim tripsin dari babi selama pembuatan beberapa jenis vaksin tertentu. Perlu diketahui bahwa vaksin yang menggunakan enzim babi sebagai katalisator hanya sebagian kecil saja dari semua jenis vaksin yang ada. Seringkali masalahnya ada pada perbedaan persepsi. Sebagian besar orang mengira bahwa proses pembuatan vaksin itu seperti orang membuat puyer. Bahan-bahan yang ada semua dicampur jadi satu, termasuk yang mengandung babi, dan kemudian digerus menjadi vaksin. Hal semacam ini adalah persepsi keliru mengenai proses pembuatan vaksin di era modern ini. Bila prosesnya demikian sudah tentu hukum vaksin menjadi haram.
       Sebenarnya proses pembuatan vaksin di era modern ini amatlah kompleks. Ada beberapa tahapan, dan tidak ada proses seperti menggerus puyer tadi. Enzim tripsin babi digunakan sebagai katalisator untuk memecah protein menjadi peptida dan asam amino yang menjadi bahan makanan kuman. Kuman tersebut setelah dibiakkan kemudian dilakukan fermentasi dan diambil polisakarida pada dinding selnya sebagai antigen bahan pembentuk vaksin. Selanjutnya dilakukan proses purifikasi dan ultrafiltrasi yang mencapai pengenceran 1/67,5 milyar kali sampai akhirnya terbentuk produk vaksin. Pada hasil akhir proses sama sekali tidak terdapat bahan-bahan yang mengandung enzim babi. Bahkan antigen vaksin ini sama sekali tidak bersinggungan dengan enzim babi baik secara langsung maupun tidak.
        Dengan demikian isu bahwa vaksin mengandung babi menjadi sangat tidak relevan dan isu semacam itu timbul karena persepsi yang keliru pada tahapan proses pembuatan vaksin. Majelis Ulama Indonesia sudah mengeluarkan fatwa terhadap vaksin meningitis dan polio oral serta injeksi yang pada proses pembuatannya menggunakan katalisator dari enzim tripsin babi bahwa vaksin-vaksin tersebut boleh digunakan jika belum ada alternatif lain sebagai penggantinya. Sedangkan Majelis Ulama di Eropa, Negara-negara Timur Tengah, dan Amerika bahkan mengeluarkan sertifikat halal untuk beberapa vaksin yang menggunakan enzim babi sebagai katalisator namun pada produk akhir tak dijumpai lagi adanya tripsin babi ini. Kaidah yang mereka gunakan adalah kaidah istihalah dan istihlak. Istihalah adalah hukum transformasi zat yaitu terjadinya perubahan zat dari bentuk awal ke bentuk akhir yang sama sekali berbeda. Istihlak adalah hukum pengenceran luar biasa yang membuat unsur najis bisa terkalahkan oleh unsur yang halal karena banyaknya jumlah zat halal dibanding zat najisnya.

Vaksin tanpa sertifikat halal

         Isu lain yang sering dilontarkan masyarakat penolak vaksinasi adalah isu vaksin tak bersertifikat halal. Ini juga sering membuat resah masyarakat hingga akhirnya beramai-ramai menolak vaksinasi. Perlu diketahui bahwa kaidah yang sebenarnya dalam Islam adalah sebagaimana disebutkan dalam ilmu ushul fiqih: "Hukum asal segala sesuatu adalah mubah (halal) sampai ada dalil yang mengharamkannya." Jadi syarat suatu zat disebut halal adalah jika tak ada unsur haram di dalamnya. Mengapa demikian? Sebab di alam semesta ini benda yang halal jumlahnya jauh lebih banyak daripada benda yang haram. Jika kaidah ini dibalik menjadi: "Semua benda dianggap haram sampai punya sertifikat halal" maka ini akan sangat menyulitkan dan berlawanan dengan maksud syariat Islam yang sebenarnya.
       Sertifikat halal memang baik namun tak ada sertifikat halal bukan otomatis berarti haram. Kita bisa meneliti apakah pada produk akhir vaksin ada zat yang haram. Jika tak ada maka vaksin tersebut hukumnya adalah halal. Karena sejatinya hak menentukan halal dan haram adalah hak prerogatif Allah SWT dan bukan tergantung pada selembar sertifikat semata. Sebagai muslim kita wajib memperhatikan kehalalan makanan dan obat-obatan termasuk vaksin dengan cara memastikannya bebas dari unsur haram. Oleh karenanya sebenarnya labelisasi haram bagi setiap makanan dan obat yang haram adalah suatu langkah yang lebih dekat dengan kaidah ushul fiqih seperti di atas.
      Di sisi lain hukum obat dan vaksin berbeda dengan hukum makanan dan minuman. Pada makanan dan minuman tersedia banyak sekali alternatif yang bisa dipilih sehingga kita bisa memastikan pilihan kita hanya pada makanan dan minuman yang halal saja. Namun pada obat-obatan esensial dan vaksinasi yang amat penting bagi kesehatan masyarakat dapat berlaku hukum darurat. Khususnya jika obat dan vaksin tersebut termasuk zat haram namun tak ada alternatif lain sebagai penggantinya saat itu. Hal ini disebabkan suatu kaidah bahwa darurat itu membolehkan yang dilarang. Dengan demikian andai saja sebagian muslim masih menganggap bahwa vaksin itu haram maka berdasarkan hukum darurat ini vaksin tersebut tetap harus diberikan untuk mencegah berjangkitnya wabah penyakit ganas dan berbahaya di masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa cakupan imunisasi yang menurun menjadi sekitar 60% saja sudah bisa menimbulkan kembali wabah penyakit yang sebelumnya sudah menghilang di tengah masyarakat.

Penutup

       Demikian uraian ringkas mengenai sebagian kontroversi seputar imunisasi yang beredar di masyarakat kita, khususnya kalangan muslim. Kita perlu memahami konteks ini agar dapat berdiskusi dengan masyarakat akan pentingnya imunisasi bagi masyarakat. Diharapkan dengan kampanye positif tentang imunisasi termasuk yang terkait dengan masalah ideologis keagamaan maka mereka yang masih ragu bisa diyakinkan bahwa vaksinasi itu halal dan aman dan tidak ada seorang pun ulama di negara-negara muslim melarang program vaksinasi ini. Semoga kegalauan masyarakat karena isu tidak bertanggungjawab dari para pegiat antivaksinasi bisa terlokalisir bila semua pihak termasuk media massa juga mampu memberi informasi yang benar.

Daftar Bacaan
  1. Al Qur'an dan terjemahannya. Departemen Agama Republik Indonesia, 1971.
  2. Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko. Buku Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi ke-4. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta 2011.
  3. Al Qaradhawy Y. Halal dan haram dalam Islam. Jakarta, PT Bina Ilmu 1993.
  4. Center for Disease Control http://www.cdc.gov http://www.binbaz.org.sa/mat/238 diunduh 1 Juli 2012.
  5. Fatwa MUI 4 Syaban 1431 H/16 Juli 2010 M. Fatwa No. 06 tahun 2010 tentang penggunaan vaksin meningitis bagi jemaah haji atau umrah.
  6. Jenie UA. Obat sebagai produk rekayasa biokimiawi dan rekayasa genetika serta kaitannya dengan masalah kehalalannya. Disampaikan pada Lokakarya dampak RUU Jaminan Produk Halal terhadap obat dan vaksin bagi kesehatan masyarakat. Jakarta, Bidakara, 04 Juni 2012.
  7. Yanuarso PB. Pandangan Agama terhadap vaksinasi. Dalam: Trihono PP, Oswari H, Gunardi H, Hendarto A, penyunting. Simposium Imunisasi IDAI ke-3, Immunization for bright future of our children. Ikatan Dokter Anak Cabang Jakarta. 2012. H. 71-6.
Penulis: Piprim Basarah Yanuarso (Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI)
Dipresentasikan pada :
World Immunization Week 2015, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia
Pusat Kesehatan Ibu dan Anak KIARA RSCM, Jakarta 22 April 2015

Terima Kasih atas Ilmu yg disampaikan, semoga bermanfaat.
Copas tanpa edit dari http://www.idai.or.id 
Silahkan Kunjungi WebSite Sumber.



Jumat, 01 Januari 2016

Seberapa besar bahaya efek samping obat?

Pernahkah Anda menjumpai orang yang tidak mau minum obat sama sekali karena takut pada efek sampingnya? Ada anggapan bahwa sering minum obat tidak baik karena bisa merusak ginjal atau liver. Ada pasien di rumah sakit yang tidak meminum obat pemberian dokter karena takut terhadap efek samping obat sehingga obat disembunyikan dan dibiarkan menumpuk hingga satu kantung kresek. Sebenarnya seberapa besar bahaya efek samping obat? Apakah setiap orang pasti akan mengalami efek samping obat? Bolehkah berhenti minum obat tanpa saran dari dokter? Ulasan berikut ini semoga bisa menambah pemahaman kita tentang efek samping obat.

Efek samping obat (ESO) adalah efek tidak dikehendaki (karena membahayakan) yang ditimbulkan oleh obat. ESO bisa timbul segera setelah minum obat atau bisa juga baru terjadi setelah obat diminum bertahun-tahun. Sebagai contoh ada orang yang setiap minum obat penghilang rasa sakit (misal asam mefenamat) lambungnya langsung terasa perih dan sakit. Pada kasus lain ada yang mengalami osteoporosis (keropos tulang). Setelah ditelusuri ternyata akibat minum obat golongan kortikosteroid (misal deksametason) setiap hari dalam waktu berbulan-bulan.

Obat pada dasarnya adalah senyawa kimia yang memberikan efek tertentu pada tubuh. Efek tersebut bisa berupa efek yang dikehendaki karena memberikan efek pengobatan, namun bisa juga disertai efek yang tidak dikehendaki atau dikenal sebagai efek samping. ESO bisa muncul dalam berbagai bentuk dan tingkat keparahan. Efek samping ringan misalnya mengantuk, gatal, sembelit, sampai efek samping yang berat seperti gagal ginjal, kerusakan liver, gangguan pembentukan sel darah dan sebagainya.

Obat bisa menimbulkan efek samping karena dapat memengaruhi fungsi fisiologi pada lebih dari satu organ tubuh kita. Di salah satu organ menimbulkan efek pengobatan, tapi di organ lain menimbulkan efek membahayakan. Sebagai contoh propanolol, suatu obat antihipertensi. Pada organ jantung propanolol menimbulkan efek menurunnya kecepatan dan kekuatan kontraksi otot jantung sehingga volume darah yang dipompa jantung berkurang akhirnya tekananan darah menjadi turun. Namun, pada otot saluran pernafasan obat tersebut menimbulkan efek kejang otot hingga otot saluran nafas menyempit dan menyebabkan sesak nafas. Oleh sebab itu, pasien hipertensi yang meminum propanolol tekanan darahnya bisa turun, namun beberapa dari pasien tersebut ada yang mengalami efek samping sesak nafas.

Apakah setiap orang bila minum obat semisal asam mefenamat pasti mengalami efek samping perih lambung? Ternyata tidak. Ada orang setelah minum asam mefenamat lambungnya baik-baik saja. Tapi sebagian ada yang merasa lambungnya perih bahkan sakit yang luar biasa sampai harus dibawa ke UGD. Terjadinya efek samping obat dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, faktor genetik. Berdasarkan hasil penelitian, variasi genetik bisa mempengaruhi kemungkinan seseorang akan mengalami efek samping obat atau tidak mengalaminya. Meskipun dewasa ini belum dilakukan, kelak pemeriksaan genetik dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan obat. Kedua, faktor dosis obat. Beberapa obat ada yang efek samping atau toksisitasnya muncul bila diberikan pada dosis besar. Oleh sebab itu, mengapa sangat penting untuk mematuhi takaran minum obat. Ketiga, minum beberapa obat pada waktu bersamaan. Minum dua macam obat atau lebih sekaligus dapat mengakibatkan terjadinya reaksi antarobat di dalam tubuh kita sehingga salah satu obat muncul toksisitasnya. Untuk mewaspadai hal ini Anda bisa bertanya pada dokter atau tenaga farmasis tentang aturan waktu ketika akan meminum masing-masing obat. Keempat, riwayat penyakit. Pada orang yang memiliki riwayat sakit maag, minum asam mefenamat dapat memperparah perih lambung. Oleh sebab itu, apabila berobat beritahukan riwayat penyakit Anda sehingga dokter atau apoteker dapat memberikan obat yang tepat sesuai kondisi Anda. Untuk penderita dengan riwayat sakit maag, bila membutuhkan obat penghilang rasa nyeri akan diberi obat yang tidak menimbulkan efek samping perih lambung.

Kembali pada pertanyaan di atas, benarkah sikap kita bila tidak mau minum obat karena takut bahaya efek sampingnya? Padahal ternyata ESO belum tentu terjadi selama kita mematuhi aturan penggunaannya. Di sisi lain penyakit kronis yang butuh pengobatan terus menerus seperti diabetes, hipertensi, epilepsi, stroke, sangat berbahaya bila obat dihentikan. Penyakitnya bisa kambuh dan bertambah parah bahkan berakibat terjadi kematian. Misalnya orang yang pernah mengalami serangan stroke. Salah satu obatnya adalah asetosal yang berkhasiat mencegah sumbatan pembuluh darah. Bila obat tersebut dihentikan minumnya, stroke akan kambuh dan berdampak lebih buruk. Pasien akan mengalami kelumpuhan atau cacat permanen bahkan tidak jarang pula yang berakhir pada kematian. Dengan demikian, sebelum efek samping yang dikhawatirkan benar-benar terjadi, ternyata pasien justru bisa meninggal akibat pengobatan yang dihentikan.

Dalam meresepkan obat, dokter tentu sudah mempertimbangkan efek samping tiap obat yang diberikan. Namun demikian, dengan berpegang pada prinsip selama rasio antara manfaat dan risiko efek samping obat masih lebih besar manfaatnya, maka obat akan tetap diberikan demi kesembuhan dan keselamatan jiwa pasien. Tentunya dengan tetap waspada ESO melalui pemantauan terhadap parameter pemeriksaan laboratorium. Nah, dengan penjelasan di atas, apakah Anda masih takut
(Endang Susilowati, S.Si., M.Farm-klin, Apt. Dosen AKFAR Putra Indonesia Malang)

sumber:  www.facebook.com/swamedikasi

Selasa, 28 Juli 2015

MAKANAN / MINUMAN YANG BERBAHAYA DIKONSUMSI BERSAMA OBAT


Sahabat, hari ini saya akan berbagi Artikel tentang aturan minum  obat agar lebih tepat.


Aturan dalam pengobatan tradisional atau herbal atau anggapan dalam masyarakat, tak boleh minum obat sesudah konsumsi makanan tertentu, ternyata bukan mitos. Makanan atau minuman tertentu dapat berinteraksi dengan obat jika dikonsumsi bersamaan, membuat khasiat obat jadi lebih keras atau sebaliknya, meniadakan,  menurunkan atau menghilangkan khasiat obat. Bahkan bisa menyebabkan akibat serius. Berikut makanan/ minuman yang tak boleh dikonsumsi bersamaan dengan obat.
  • Jeruk nipis
  • Pomelo
Jangan campur dengan:
Statin (obat penurun kolesterol) dan dextromethorphan (obat untuk mengatasi batuk yang disebabkan pilek dan flu)
Akibat yang bisa terjadi:
Jeruk nipis, pomelo (sejenis jeruk bali) dapat menghambat sejenis enzim yang memecah statin (obat kolesterol) dan obat lain, termasuk obat batuk dextromethorphan. Obat jadi menimbun di dalam aliran darah, meningkatkan risiko efek samping. Untuk dextromethorphan, efek sampingnya adalah halusinasi dan mengantuk. Pada statin, bisa menyebabkan kerusakan otot parah.
Buah ini dan jusnya bisa bertahan sehari atau lebih lama di dalam tubuh. Hindari sama sekali jus atau buahnya jika minum obat tersebut di atas.
  •  Jus apel,
  •  Jus jeruk/orange juice
  • Jus grapefruit
Jangan campur dengan:
Obat alergi Allegra (fexofenadine), antibiotik Cipro atau Levaquin, obat thyroid Synthroid, obat alergi dan asma Singulair
Akibat yang bisa terjadi:
Jus ini menghambat peptide yang mengangkut obat-obatan tersebut dari sistem pencernaan ke dalam aliran darah sehingga mengurangi absorpsi, membuat obat kurang efektif. Jangan minum jus tersebut di atas paling sedikit 4 jam sesudah minum obat ini.
  • Grapefruit
Grapefruit (sejenis jeruk) dan jus grapefruit bisa mengubah fungsi enzim tertentu di dalam sistem pencernaan yang memproses beberapa jenis obat.
Jangan campur dengan:
  • Beberapa jenis obat statin untuk menurunkan kolesterol seperti simvastatin (Zocor), atorvastatin (Lipitor), pravastatin (Pravachol) dan lovastatin (Mevacor).
  • Beberapa jenis obat penurun tekanan darah seperti nifediac, afeditab.
  • Beberapa jenis obat anti-anxiety seperti buspirone
  • Beberapa jenis obat anti-arrhythmia seperti Cordarone dan Nexterone
  • Beberapa jenis antihistamine seperti Allegra (fexofenadine)
  • Obat anti malaria quinerva atau quinite (quinine)
  • Obat halcion (triazolam) untuk mengobati insomnia
Akibat yang bisa terjadi:
Makan grapefruit atau minum jus grapefruit dalam jumlah bermakna, bahkan beberapa jam sebelum atau sesudah minum obat, dapat meningkatkan efek samping atau dalam kasus parah, dapat menyebabkan kerusakan organ.
Grapefruit dapat membuat kadar obat statin menimbun di dalam tubuh, dan akhirnya bisa menyebabkan kerusakan liver atau kerusakan otot yang bisa mengakibatkan gagal ginjal. Untuk antihistamine, grapefruit menghambat uptake obat ke dalam aliran darah, mengakibatkan kadar obat di dalam darah turun. Karena itu, paling aman jangan makan grapefruit atau minum jus grapefruit sama sekali ketika minum obat.
  • Sayuran kaya Vitamin K
  • Bawang putih
  • Kayumanis
  • Cranberry
  • Jahe
  • Ginseng
  • Ginkgo
  • Teh hijau
Vitamin K termasuk komponen penting dalam proses pembekuan darah. Sayuran hijau yang terutama tinggi vitamin K adalah kale, bayam, collard, peterseli, Swiss chard.
Jangan campur dengan:
Anti-coagulants – pengencer darah -  diresepkan untuk mengobati gumpalan darah – blood clot - dan menurunkan risiko pembentukan gumpalan darah di kemudian hari. Blood clot dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, atau kondisi serius lainnya jika gumpalan terjadi di kaki atau paru.
Akibat yang bisa terjadi:
Makanan kaya vitamin K bisa secara bermakna berefek pada anti-coagulants tertentu, seperti warfarin. Jika minum warfarin, untuk mencegah membuat darah lebih kental secara tak disengaja, tanya dokter jumlah makanan ini yang boleh dikonsumsi. Teh hijau juga mengandung vitamin K. Tanya dokter apakah boleh diminum ketika minum obat anti-coagulants.
Bawang putih, jahe, cranberry, jus cranberry, ginseng, kayu manis, ginkgo, dapat mengencerkan darah. Konsumsi dalam dosis tinggi bersama anti-coagulant meningkatkan risiko pendarahan berlebihan.
  • Walnut
Walnut kaya serat, baik untuk pencernaan dan kolesterol, tapi bisa mengubah absorpsi obat tertentu.
Jangan campur dengan:
Obat thyroid seperti levothyroxine (Levothroid, Levoxyl, Synthorid).
Akibat yang bisa terjadi:
Walnut dapat mengurangi absorpsi levothyroxine, obat yang paling umum digunakan untuk mengobati hypothyroidism. Hindari juga tepung kedelai, cottonseed meal, makanan tinggi serat dan suplemen serat karena bisa berefek pada fungsi levothyroxine.
  • Keju parmesan/ mozzarella
  • Aged cheddar 
  • Daging olahan
  • Pisang
  • Avokad
  • Cokelat
Strong, aged cheese (aged cheddar, Swiss cheese, blue cheese, Camembert, brie, mozzarella, parmesan), hati sapi/ ayam, daging olahan, makanan yang diasap, diacar, difermentasi, anchovies, avokad, pisang, cokelat, termasuk makanan kaya tyramine, sejenis asam amino alamiah.
Jangan campur dengan:
Obat monoamine oxidase inhibitors (MAOI) dan obat antibiotik tertentu.
Akibat yang bisa terjadi:
MAOI seperti phenylzine atau tranylcypromine adalah jenis obat antidepressant. Makan banyak makanan yang mengandung tyramine ketika minum obat MAOI, bisa menyebabkan tekanan darah mendadak naik sampai pada tingkat yang membahayakan, sakit kepala, mual. Orang-orang yang minum MAOI harus diet rendah tyramine di bawah pengawasan dokter. Tyramine juga berbahaya jika dicampur dengan obat antibiotik tertentu, contohnya linezolid.
  •  Susu
  • Produk susu (dairy product): yogurt, keju; minuman yang difortifikasi kalsium
Kalsium baik untuk kesehatan tulang dan sistem saraf, tapi bisa berefek pada absorpsi obat tertentu di dalam sistem pencernaan.
Jangan campur dengan:
Antibiotik quinolone  dan tetracycline
Akibat yang bisa terjadi:
Antibiotik tetracycline, doxycycline, minocycline, tak bisa diabsorp secara baik jika diminum dengan susu, yogurt, atau bahkan jus jeruk yang difortifikasi kalsium. Susu dan minuman lain yang diperkaya kalsium dapat mengikat obat pembasmi infeksi ini di dalam saluran cerna sehingga obat tidak diabsorp ke dalam aliran darah. Obat tetap tinggal di dalam usus dan berakhir di toilet. Akibatnya bukan hanya infeksi tidak sembuh,  tapi juga bisa membuat bakteri resisten terhadap antibiotik. Sesudah minum obat ini, jangan konsumsi produk susu selama beberapa jam.
  • Pisang
  •  Jeruk
  •  sayuran daun hijau
Buah dan sayuran kaya potassium.
Jangan campur dengan:
  • ACE inhibitor, contohnya captopril (Capoten), enalapril (Vasotec), dan lisinopril (Prinivil, Zestril), digunakan untuk menurunkan tekanan darah atau mengobati gagal jantung.
  • Obat diuretik tertentu, seperti triamterene (Dyrenium), digunakan untuk mengurangi penimbunan cairan dan mengobati tekanan darah tinggi.
Akibat yang bisa terjadi:
ACE inhibitor dan diuretik yang disebut ‘potassium sparing’ dapat meningkatkan jumlah potassium di dalam tubuh. Terlalu banyak potassium dapat menyebabkan denyut jantung tidak beraturan dan jantung berdebar-debar - heart palpitations. Jika minum obat ini, jangan konsumsi makanan tinggi potassium dalam jumlah besar. Makanan tinggi potassium antara lain, pisang, jeruk, sayuran daun hijau, dan pengganti garam seperti Morton Lite Salt.
 Alkohol
Jangan campur dengan:
  • Acetaminophen
  • Obat pilek yang dijual bebas (over – the – counter – OTC)
  • Obat penawar sakit resep dokter dan yang dijual bebas (OTC)
  • Obat antidepressant
  • Berbagai obat lain, perhatikan instruksi pada label atau instruksi dokter
Akibat yang bisa terjadi
Perhatikan peringatan tentang alkohol. Banyak obat yang disertai dengan instruksi jangan minum alkohol ketika minum obat. Ini peringatan penting. Hanya segelas kecil wine saja bisa terlalu banyak. Alkohol saja sudah bisa membuat mengantuk, pusing, dan kurang koordinasi. Minum obat tertentu dengan alkohol bisa memperbesar efek ini. Bahkan bisa menyebabkan masalah serius, antara lain pendarahan dalam, masalah-masalah pernapasan, dan masalah-masalah jantung.
Alkohol juga bisa membuat obat kurang efektif, bahkan tidak berguna atau bisa membuat obat toksik. Minum acetaminophen dengan alkohol misalnya, bisa menyebabkan kerusakan liver.
Minum dengan obat antidepressant dapat menyebabkan hipertensi, sakit kepala, jantung berdetak cepat, dan stroke.
Sumber:
Consumer Reports.com
USA TODAY.com
Doctor Oz.com
Mens Health.com
Prevention.com

Dalam artikel lain yg bersumber dari http://www.memobee.com menyatakan, makanan/minuman ini tidak boleh diminum bersama dengan obat :

1.Minuman Berkafein
            Kafein dapat menimbulkan ancaman kesehatan yang serius jika diminum dengan stimulan. Hindari meminum secangkir kopi saat sedang mengonsumsi efedrin (penekan nafsu makan), obat asma dan amfetamin. Beri jarak 2-3 jam setelah minum obat, baru minum kopi.
Banyak orang mengetahui jika kafein biasa terdapat dalam kopi atau minuman berenergi. Padahal tidak hanya disitu, zat kafein juga banyak ditemukan dalam kandungan teh, khususnya teh hijau. Makanya agar tidak salah , hindarilah minum kopi atau teh ketika meminum obat. Menurut pakar kesihatan, kafein berbahaya jika diminum dengan obat yang mengandung stimulah. Biasakan untuk tidak meminum minuman berkafein saat memakn pil penekan nafsu makan atau diet, obat asma atau amfetamin. Jika Anda seorang penggila kafein, tunggu 2 hingga 3 jam setelah meminum obat.
2. Semua Jenis Susu
Hampir semua orang suka minum susu, tapi walau diklaim menyihatkan. Jangan pernah coba-coba meminum obat menggunakan air susu. Kandungan zat di dalam susu akan mengurangi daya serap antibiotik dalam tubuh sekaligus menghambat penyerapan beberapa komponen tertentu dalam obat. Tidak hanya itu, kandungan kalsium pada susu juga dapat mengganggu efekt obat. Jadi saat mengkonsumsi obat, biasakanlah untuk menghindari konsumsi susu, setidaknya hingga 4 jam kedepan.
            Jangan minum obat dengan susu' kata-kata itu seringkali didengar atau diucapkan oleh masyarakat ketika ingin mengonsumsi obat oral. Kenapa susu tidak boleh dicampur dengan obat?
            Obat atau antibiotik yang dikonsumsi secara oral bisa menjadi efektif bagi seseorang jika dikonsumsi dan diserap dengan baik oleh tubuh. Obat oral harus diserap dari saluran pencernaan hingga bisa masuk ke dalam aliran darah lalu dikirim ke daerah yang sakit atau mengalami infeksi untuk pengobatan.
            Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyerap obat dengan baik, termasuk keasaman relatif di perut, ada atau tidaknya nutrisi lemak atau nutrisi lainnya, serta apakah ada unsur-unsur tertentu di dalam tubuh seperti kalsium.
            Beberapa obat seperti keluarga antibiotik yang mengandung tetrasiklik akan bereaksi dengan susu. Kalsium yang terdapat dalam susu akan mengikat obat atau antibiotik sehingga mencegah penyerapan obat tersebut di dalam tubuh.
3. Jus Pomegranate (Delima), Jus Grapefruit dan Segala Jenis Jus Lainnya
            Vitamin pada buah-buahan membuat tubuh lebih fit. Terutama obat, dapat segera menyembuhkan penyakit. Namun sering kali orang yang sedang sakit minum obat bersamaan waktu dengan minum jus. Padahal, minum obat bersamaan dengan jus dapat menghilangkan efek khasiat obat yang diminum.
            Kesimpulan ini didapat berdasarkan penelitian dari Universitas Western Ontario, Kanada oleh Prof. David Bailey. Hasil penelitian ini membuktikan bawa jus dapat mengganggu ketahanan tubuh dalam menyerap sari obat. Penelitian ini dilakukan pada sejumlah orang yang diminta meminum obat dengan air putih dan jus buah.
            Setelah diteliti, ternyata orang yang meminum obat dengan air putih mampu menyerap kandungan obat dengan penuh. Kemudian, orang yang meminum obat dengan jus hanya mampu menyerap sebagian kandungan obat. Menurutnya, jus buah yang dapat mengurangi serapan obat adalah jus jeruk, jus apel, dan jus anggur. Sedangkan obat yang kurang terserap akibat jus tersebut adalah obat antikanker, darah tinggi, jantung, dan obat-obat antibiotik lainnya.
            Agar obat menyerap penuh kedalam tubuh, hindarilah mengkonsumsi jus di waktu yang sama. Sayang kan, jika kita meminum obat namun kurang berkhasiat. Akan lebih baik jika diseling waktu antara minum jus dan minum obat. Bagaimana pendapat Anda?
            Alasan tidak boleh meminum obat dengan Jus pomegranate (Delima)
Menurut pakar jus delima tidak boleh digunakan untuk meminum obat. Zat yang terdapat dalam jus tersebut dapat memperlambat kecepatan hati untuk memecah pengencer darah dan menyebabkan berkurangnya efeks obat. Tidak hanya itu, para pakar juga menemukan bahwa enzim di dalam jus delima dapat memecah resep obat.
            Alasan tidak boleh meminum obat dengan Jus Grapefruit
Grapefruit bukanlah anggur. Namun, buah ini juga tidak dapat disamakan dengan jeruk Bali. Sejatinya jus grapefruit punya karakteristik dan manfaat hebat untuk tubuh. Tapi akan menjadi hal berbeza jika Anda mengonsumsinya untuk minum obat. University of Western Ontario menemukan bahawa meminum jus grapefruit dapat mengganggu kinerja lebih dari 50 obat. Jus ini boleh meningkatkan penyerapan obat-obatan tertentu serta dapat mengubah dosis obat yang diminum dari dosi normal menjadi dosis berlebihan. Maka dari itu, hindarilah minuman ini jika Anda tidak ingin mengalami over dosis.
     4. Minuman Isotonik
            Saat kita merasa lelah dan haus selesai beraktivitas, tentunya kita ingin meneguk minuman yang segar dan rnampu mengembalikan stamina tubuh dengan cepat. Maka minuman isotonic, pun menjadi salah satu pilihan. Disamping rasanya yang bervariasi, minuman isotonic juga mengandung ion, yang dipercaya dapat cepat menggantikan cairan tubuh yang hilang. Saat ini, banyak minuman isotonik di pasaran bebas dengan berbagai merek dan dapat dibeli dengan harga yang cukup terjangkau.
Hindari minum obat untuk gagal jantung dan obat-obatan hipertensi dengan minuman isotonik karena minuman ini mengandung kalium. Selain itu, kalium yang tinggi juga terdapat pada buah pisang. Kalium berguna bagi penderita hipertensi, tetapi apabila asupan kalium malah berlebihan boleh membahayakan si penderita.
     5. Minuman Bersoda
            Orang tua saya pernah bilang katanya kalau ingin atau setelah minum obat tidak boleh minum minuman bersoda, misalnya pepsi, coca cola, dll . karena berbahaya dan bisa menyebabkan keracunan, kematian, dll.
            Soda memang bukan minuman yang baik untuk kesehatan karena bisa menyebabkan kegemukan, osteoporosis bahkan mengurangi jumlah sperma. Tapi benarkah minum obat dengan soda dapat menyebabkan kematian mendadak?
"saya kira harusnya minum obat pakai soda bukan penyebab kematian mendadak. Harus dicari dulu cod (cause of death), dipelajari orang tersebut pernah sakit apa," jelas dr. Tunggul d situmorang, sppd,kgh, ahli ginjal dan direktur rs pgi cikini.
Menurut dr. Tunggul, meminum obat dengan menggunakan soda bukanlah suatu penyebab terjadinya kematian mendadak, karena hal-hal yang bisa memicu kematian mendadak antara lain:
SERANGAN JANTUNG
STROKE
EMBOLI (PEMBENTUKAN GELEMBUNG UDARA ATAU MASUKNYA BENDA
ASING DI ALIRAN DARAH YANG MENYEBABKAN ALIRAN DARAH TERSUMBAT)
GAGAL NAPAS
"memang ada reaksinya, tapi nggak ada ceritanya seperti itu (minum obat dengan soda) bikin mati," tegas dr tunggul yang juga menjabat sebagai direktur mrccc siloam hospital semanggi.
            Tapi meski tidak menyebabkan kematian mendadak, minum obat memang tidak dianjurkan dengan menggunakan soda atau minuman lain seperti susu, kopi, teh dan jus. Dokter biasanya akan menganjurkan pasien untuk minum obat dengan air putih karena air putih bebas dari kandungan bahan kimia sehingga tidak menimbulkan kontraksi.

Bijaklah dalam meminum Obat agar kesembuhan dapat tercapai. Semoga kesehatan senantiasa menyertai kita. Aamiin